Selasa, 02 Desember 2008

Acne

Definisi

Jerawat (bahasa Inggris: acne) adalah penyakit kulit yang terjadi akibat gangguan berlebihan produksi kelenjar minyak (sebaceous gland) yang menyebabkan peradangan menahun dan penyumbatan saluran folikel rambut dan pori-pori kulit. Penyakit ini umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Selain menimbulkan bekas jerawat, hal lain yang ditakutkan adalah dapat membuat orang tersebut tidak percaya diri atau depresi. Jerawat biasa terdapat di bagian tubuh dengan kelenjar minyak terbanyak, yaitu di wajah, leher, bagian atas dada dan punggung.

Epidemiologi

Karena hampir setiap orang pernah menderita penyakit ini, maka sering dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul secara biasa. Hampir 100% orang pernah mengalami gangguan jerawat ini. Saat remaja, pria lebih sering terkena dibanding wanita. Namun saat dewasa muda, jerawat lebih mudah terjadi pada wanita dibanding pria. Meskipun pada pria umumnya jerawat lebih mudah berkurang, namun pada penelitian diketahui bahwa justru gejala yang lebih berat biasanya terjadi pada pria. Diketahui pula ras oriental (Jepang, Cina, Korea) lebih jarang menderita jerawat dibanding dengan ras Kaukasia (Eropa, Amerika). Umumnya jerawat terjadi pada sekitar usia 14-17 tahun pada wanita, 16-19 tahun pada pria. Namun, jerawat tidak terbatas hanya sampai remaja. 12 % wanita dan 5 % pria pada usia 25 tahun mempunyai jerawat. Saat usia 45 tahun, 5 % wanita dan pria masih memiliki jerawat.

Penyebab

Jerawat terjadi bila folikel rambut tersumbat dengan minyak dan sel-sel kulit yang mati. Setiap folikel terhubung dengan kelenjar minyak (sebaceous gland). Kelenjar ini menghasilkan minyak yang disebut sebum untuk melubrikasi rambut dan kulit kepala. Sebum biasanya akan keluar ke permukaan folikel rambut, namun bila tubuh memproduksi sebum dalam jumlah yang berlebih, hal ini akan menyebabkan penyumbatan di folikel rambut. Sumbatan ini dapat muncul sampai ke permukaan dan menghitam, yang dinamakan komedo.

Gambar 1. Jerawat terbentuk bila sebum menyumbat folikel rambut

Walaupun penyebab yang pasti penyakit ini belum diketahui, namun ada berbagai faktor yang diketahui berkaitan dengan penyakit ini :
  • Stress
  • Faktor hormonal. Salah satu faktor penting yang menyebabkan timbulnya jerawat adalah meningkatnya produksi hormon testosteron, yang dimiliki oleh tubuh pria maupun wanita. Hormon testosteron yang terdapat dalam tubuh pria maupun wanita memicu timbulnya jerawat dengan merangsang kelenjar minyak (sebaceous gland) untuk memproduksi minyak kulit (sebum) secara berlebihan.
  • Kelenjar minyak yang terlalu aktif
  • Keturunan dari orangtua
  • Bakteri di pori-pori kulit

Berbeda dengan anggapan yang beredar di masyarakat, makanan hanya mempunyai efek yang sedikit terhadap timbulnya jerawat. Jerawat juga tidak disebabkan oleh debu atau kotoran lainnya. Selain itu, menggosok kulit terlalu kuat atau membersihkan wajah dengan bahan kimia yang iritatif akan memperburuk jerawat.

Gejala

Bagian tubuh yang paling sering terkena adalah wajah, dada bagian atas, punggung. Lokasi kulit lain, misalnya leher dan lengan atas kadang-kadang terkena. Kelainan kulit yang terlihat antara lain papul yang tidak meradang dan pustul, terdapat komedo, terkadang terdapat nodus dan kista yang meradang. Dapat disertai rasa gatal, namun umumnya keluhan pasien adalah masalah estetika. Komedo merupakan gejala khas jerawat berupa papul kecil-kecil yang di tengahnya mengandung sumbatan sebum, bila berwarna hitam disebut komedo hitam atau komedo terbuka (blackheads, open comedo). Sedangkan bila berwarna putih karena letaknya lebih dalam disebut komedo putih atau komedo tertutup (whiteheads, close comedo).

Gambar 2. Jerawat di wajah Gambar 3. Jerawat di punggung


Pengobatan

Pengobatan jerawat dengan cara mengurangi produksi minyak, melawan infeksi bakteri, mempercepat pergantian sel kulit dan mengurangi peradangan. Sebagian besar obat-obatan jerawat belum memberikan hasil dalam 4-6 minggu pertama. Paling baik adalah produk yang mengandung benzoyl peroxide, karena bisa mengurangi infeksi di kulit, selain itu bisa menghilangkan lapisan kulit mati yang menyumbat pori. Selain itu dapat pula menggunakan produk yang mengandung sulfur, resorcinol atau asam salisilat. Ada pula produk yang mengandung antibiotik untuk menangkal infeksi. Produk yang mengandung vitamin A bisa digunakan tetapi mengandung efek samping.

Jika produk luar tidak efektif, obat-obatan yang diminum bisa dipertimbangkan. Obat jerawat yang mengandung antibiotik bisa digunakan sampai enam bulan. Obat ini akan bekerja melawan bakteri di kulit dan mengurangi produksi sebum. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kulit. Untuk jerawat yang tidak sembuh dengan pengobatan di atas, gunakan obat yang mengandung isotretinoin. Obat ini efektif, namun perlu pengawasan dokter, karena dapat menimbulkan efek samping yang buruk. Selain itu, wanita hamil tidak dianjurkan mengkonsumsi isotretinoin, karena dapat menyebabkan kecacatan pada janin. Kaum wanita bisa memilih menggunakan pil kontrasepsi untuk mengendalikan produksi hormon testosteron. Tidak semua wanita cocok dengan pil ini dan bisa berakibat jerawat muncul lebih banyak, untuk itu terapi pil ini harus dalam pengawasan dokter.

Katarak

Definisi
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat penambahan cairan di lensa, pemecahan protein lensa, atau kedua-duanya.

Katarak merupakan penyebab kebutaan utama yang dapat diobati di dunia pada saat ini. Sebagian besar katarak timbul pada usia tua sebagai akibat pajanan terus menerus terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh lainnya seperti merokok, radiasi ultraviolet, dan peningkatan kadar gula darah. Katarak ini disebut sebagai katarak senilis (katarak terkait usia). Sejumlah kecil berhubungan dengan penyakit mata (glaukoma, ablasi, retinitis pigmentosa, trauma, uveitis, miopia tinggi, pengobatan tetes mata steroid, tumor intraokular) atau penyakit sistemik spesifik (diabetes, galaktosemia, hipokalsemia, steroid atau klorpromazin sistemik, rubela kongenital, distrofi miotonik, dermatitis atopik, sindrom Down, katarak turunan, radiasi sinar X).

Pasien dengan katarak mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan menurun. Secara umum, penurunan tajam penglihatan berhubungan langsung dengan kepadatan katarak.

Epidemiologi

Penelitian-penelitian di Amerika Serikat mengidentifikasi adanya katarak pada sekitar 10% orang, dan angka kejadian ini meningkat hingga sekitar 50% untuk mereka yang berusia antara 65 sampai 74 tahun, dan hingga sekitar 70% untuk mereka yang berusia lebih dari 75 tahun.

Sperduto dan Hiller menyatakan bahwa katarak ditemukan lebih sering pada wanita dibanding pria. Pada penelitian lain oleh Nishikori dan Yamomoto, rasio pria dan wanita adalah 1:8 dengan dominasi pasien wanita yang berusia lebih dari 65 tahun dan menjalani operasi katarak.

Gejala dan Tanda
Gejala utama yang dijumpai adalah penglihatan berkabut dan penglihatan yang semakin kabur. Pada gejala awal dapat terjadi penglihatan jauh kabur sedangkan penglihatan dekat sedikit membaik dibandingkan sebelumnya (second sight). Bila kualitas lensa memburuk atau terjadi kelelahan maka second sight ini akan menghilang. Gejala lain yang dijumpai pada katarak senilis adalah penigkatan rasa silau (glare). Pada lensa mata penderita katarak akan tampak bayangan putih. Selain itu dapat pula terjadi pandangan ganda, rabun senja dan terkadang membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk membaca.

Pemeriksaan
Pada pasien katarak, dapat dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan. Tajam penglihatan biasanya akan sangat berkurang.

Tata laksana
Satu-satunya terapi untuk pasien katarak adalah bedah katarak dimana lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular :

  • Ekstraksi intrakapsular (ICCE). Tehnik ini jarang dilakukan lagi sekarang.
  • Ekstraksi ekstrakapsular (ECCE). Pada tehnik ini, bagian depan kapsul dipotong dan diangkat, lensa dibuang dari mata, sehingga menyisakan kapsul bagian belakang. Lensa intraokuler buatan dapat dimasukkan ke dalam kapsul tersebut. Kejadian komplikasi setelah operasi lebih kecil kalau kapsul bagian belakang utuh.
  • Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi. Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat lensa melalui irisan yang kecil (2-5 mm), sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca-operasi. Teknik ini kurang efektif pada katarak yang padat.

Katarak biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun dan pasien mungkin meninggal sebelum diperlukan pembedahan. Apabila diperlukan pembedahan maka pengangkatan lensa akan memperbaiki ketajaman penglihatan pada >90% kasus. Sisanya mungkin telah mengalami kerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah serius misalnya glaukoma, ablasio retina, atau infeksi yang mengambat pemulihan daya pandang. Adanya lensa intraokular dan lensa kontak kornea menyebabkan penyesuaian penglihatan setelah operasi katarak menjadi lebih mudah dibandingkan sewaktu hanya tersedia kacamata katarak yang tebal.

Dermatitis Atopik

Definisi

Dermatitis atopik adalah kelainan kulit yang sering terjadi pada bayi dan anak, yang biasa ditandai oleh rasa gatal, penyakit sering kambuh, dan distribusi lesi yang khas. Dermatitis atopik ini penyebabnya adalah multifaktorial, termasuk di antaranya faktor genetik, emosi, trauma, keringat, dan faktor imunologis.

Gejala dan tanda

Biasanya gejala dan tanda pada dermatitis atopik mulai timbul ketika usia 6 bulan, jarang sebelum usia 8 minggu. Umumnya dermatitis atopi sering mengalami kekambuhan, jarang sembuh 100%. Sebagian besar dermatitis atopi dapat sembuh dengan bertambahnya umur tetapi dapat juga menetap sampai usia dewasa.

Bentuk klinis dari dermatitis atopik terbagi atas:

  • Bentuk infantil (2 bulan – 2 tahun)
    Nama awam adalah eksema susu. Kelainan kulit berupa eritema berbatas tegas, dapat disertai papul-papul dan vesikel-vesikel miliar. Biasa mengenai daerah kedua pipi, tangan dan kaki.
  • Bentuk anak (3 – 10 tahun)
    Merupakan kelanjutan dari bentuk infantil. Kulit tampak lebih kering (xerosis) yang bersifat kronik dan mengenai daerah fleksura antekubiti (lipat lengan), poplitea (lipat paha), tangan kaki dan periorbita.
  • Bentuk dewasa (13 – 30 tahun)
    Kelanjutan dari bentuk infantil dan anak. Lesi selalu kering dan terdapat likenifikasi (kulit menjadi tebal dan keras). Distribusi ialah di tengkuk serta daerah fleksura antekubiti (lipat lengan), poplitea (lipat paha).

Diagnosis

Dari anamnesis pasien, dapat ditanyakan kebiasaan menggaruk (pruritus), eksema pada wajah dan ekstensor pada bayi, likenifikasi fleksural (dewasa), dermatitis kronik atau kronik residif.

Selain itu, ada beberapa hal yang biasanya dihubungkan dengan dermatitis atopi. Yaitu tanyakan stigmata atopi pada pasien atau keluarganya (asma, rinitis alergi, dermatitis atopik), infeksi kulit, xerosis, fisura periaurikular, IgE reaktif (peningkatan kadar di serum, RAST dan uji kulit positif), dan gambaran lain (katarak subkapsular anterior).

Pemeriksaan penunjang

Untuk mencari faktor atopi dapat dilakukan uji kulit alergen atau uji IgE spesifik.

Komplikasi

Komplikasi yang sering terjadi pada anak dengan dermatitis atopi yaitu alergi saluran napas dan infeksi kulit oleh kuman S. aureus dan H. simplex

Tata laksana

Identifikasi faktor pencetus dan menghindarinya, termasuk alergen makanan dan inhalan . Antihistamin sedatif diberikan untuk menghilangkan rasa gatal di malam hari, tetapi bila terdapat gejala saluran napas atau urtikaria konkomitan dapat digunakan antihistamin non sedatif

Antibiotik diberikan bila terdapat infeksi sekunder
Mencegah kekeringan kulit dengan menjaga hidrasi dan pemakaian emolien, hindari pemakaian sabun yang bersifat basa .

Pada kasus yang berat, pemberian kortikosteroid lokal secara sistemik dapat diberikan, namun harus diperhatikan efek sampingnya dan diberikan jangka pendek (4 hari).

Artritis Reumatoid (Rematik)

Definisi

Artritis Reumatoid (AR) salah satu dari beberapa penyakit rematik adalah suatu penyakit otoimun sistemik yang menyebabkan peradangan pada sendi. Penyakit ini ditandai oleh peradangan sinovium yang menetap, suatu sinovitis proliferatifa kronik non spesifik. Dengan berjalannya waktu, dapat terjadi erosi tulang, destruksi (kehancuran) rawan sendi dan kerusakan total sendi. Akhirnya, kondisi ini dapat pula mengenai berbagai organ tubuh.

Penyakit ini timbul akibat dari banyak faktor mulai dari genetik (keturunan) sampai pada gaya hidup kita (merokok). Salah satu teori nya adalah akibat dari sel darah putih yang berpindah dari aliran darah ke membran yang berada disekitar sendi.

Faktor risiko yang akan meningkatkan risiko terkena nya artritis reumatoid adalah;

  • Jenis Kelamin.

Perempuan lebih mudah terkena AR daripada laki-laki. Perbandingannya adalah 2-3:1.

  • Umur.

Artritis reumatoid biasanya timbul antara umur 40 sampai 60 tahun. Namun penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan anak-anak (artritis reumatoid juvenil)

  • Riwayat Keluarga.

Apabila anggota keluarga anda ada yang menderita penyakit artritis rematoid maka anda kemungkinan besar akan terkena juga.

  • Merokok.

Merokok dapat meningkatkan risiko terkena artritis reumatoid.

Gejala dan Tanda

Gejala dan tanda dari AR dapat dilihat sebagai berikut;

  • Nyeri sendi
  • Pembengkakan sendi
  • Nyeri sendi bila disentuh atau di tekan
  • Tangan kemerahan
  • Lemas
  • Kekakuan pada pagi hari yang bertahan sekitar 30 menit
  • Demam
  • Berat badan turun

Artritis reumatoid biasanya menyebabkan masalah dibeberapa sendi dalam waktu yang sama. Pada tahap awal biasanya mengenai sendi-sendi kecil seperti, pergelangan tangan, tangan, pergelangan kaki, dan kaki. Dalam perjalanan penyakitnya, selanjutnya akan mengenai sendi bahu, siku, lutut, panggul, rahang dan leher.

Pemeriksaan Tambahan

Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaaan darah rutin. Orang dengan RA pemeriksaan rasio sedimen eritrosit (ESR) cenderung meningkat, pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya proses peradangan dalam tubuh. Pemeriksaan darah lain yang biasa nya dilakukan adalah pemeriksaan antibodi seperti faktor rheumatoid dan anti-CCP.

Selain itu juga dapat dilakukan analisa cairan sendi. Dokter anda akan mengambil cairan sendi dengan menggunakan jarum steril, lalu cairan sendi akan dianalisa apakah terdapat peningkatan kadar leukosit atau tidak dan juga dapat menyingkirkan kemungkinan penyakit rematik lainnya.

Pemeriksaan foto rontgen dilakukan untuk melihat progesifitas penyakit RA. Dari hasil foto dapat dilihat adanya kerusakan jaringan lunak maupun tulang. Pemeriksaaan ini dapat memonitor progresifitas dan kerusakan sendi jangka panjang.

Tata Laksana

Penyakit rheumatoid arthritis tidak dapat disembuhkan. Tujuan dari pengobatan adalah mengurangi peradangan sendi untuk mengurangi nyeri dan mencegah atau memperlambat kerusakan sendi. Secara umum pengobatan yang dapat dilakukan adalah pemberian obat-obatan dan operasi.

Dibawah ini adalah contoh-contoh obat yang dapat diberikan;

  • NSAIDs. Obat anti-infalamasi nonsteroid (NSAID) dapat mengurangi gejala nyeri dan mengurangi proses peradangan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah ibuprofen dan natrium naproxen. Golongan ini mempunyai risiko efek samping yang tinggi bila di konsumsi dalam jangka waktu yang lama.
  • Kortikosteroid. Golongan kortikosteroid seperti prednison dan metilprednisolon dapat mengurangi peradangan, nyeri dan memperlambat kerusakan sendi. Dalam jangka pendek kortikosteroid memberikan hasil yang sangat baik, namun bila di konsumsi dalam jangka panjang efektifitasnya berkurang dan memberikan efek samping yang serius.
  • Obat remitif (DMARD). Obat ini diberikan untuk pengobatan jangka panjang. Oleh karena itu diberikan pada stadium awal untuk memperlambat perjalanan penyakit dan melindungi sendi dan jaringan lunak disekitarnya dari kerusakan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah klorokuin, metotreksat salazopirin, dan garam emas.

Pembedahan menjadi pilihan apabila pemberian obat-obatan tidak berhasil mencegah dan memperlambat kerusakan sendi. Pembedahan dapat mengembalikan fungsi dari sendi anda yang telah rusak. Prosedur yang dapat dilakukan adalah artroplasti, perbaikan tendon, sinovektomi.

AIDS

AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome)

Definisi

AIDS adalah suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh infeksi HIV(Human Immunodeficiency Virus) yang menyebabkan hilangnya kekebalan tubuh sehingga penderita mudah terjangkit penyakit infeksi. Dan pada kenyataannya ditemukan bahwa yang menyebabkan penderita AIDS meninggal adalah karena penyakit infeksi oportunistik dan bukan oleh karena infeksi HIV itu sendiri.

Imunodefisiensi adalah keadaan dimana terjadi penurunan atau ketiadaan respon imun normal. Keadaan ini dapat terjadi secara primer, yang pada umumnya disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan, serta secara sekunder akibat penyakit utama lain seperti infeksi, pengobatan kemoterapi, sitostatika, radiasi, obat-obatan imunosupresan (menekan sistem kekebalan tubuh) atau pada usia lanjut dan malnutrisi (Kekurangan gizi). AIDS, acquired immunodeciency syndrome terjadi imunodefisiensi sekunder yang disebabkan oleh infeksi HIV. Kekurangan imunitas tubuh dapat dilihat dari kadar CD4 (kurang dari 200) dalam tubuh.

Gejala dan Tanda

Perjalanan klinik infeksi HIV terbagi atas tiga tahap yaitu, tahap akut yang berlangsung selama 3-12 minggu, tahap laten/kronik yang berlangsung antara tahun pertama hingga ke tujuh, dan tahap krisis yang terjadi pada tahun ke delapan hingga ke sebelas.

Seseorang dikatakan telah menderita AIDS apabila menunjukkan tes HIV positif dengan pemeriksaan yang sesuai dan sekurang-kurangnya didapatkan dua gejala mayor dan satu gejala minor, dan gejala-gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang berkaitan dengan infeksi HIV

Gejala mayor :

  • Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
  • Diare berkepanjangan yang berlangsung lebih dari satu bulan
  • Demam berkepanjangan lebih dari satu bulan
  • Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis (saraf)
  • Demensia (penurunan ingatan/memori) /HIV ensefalopati

Gejala minor :

  • Batuk menetap lebih dari satu bulan
  • Dermatitis generalisata yang gatal
  • Adanya penyakit herpes zoster dibeberapa tempat dan atau berulang
  • Kandidiasis orofaringeal - Penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan
  • Limfadenopati generalisata – Pembesaran di semua kelenjar limfe
  • Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

Pemeriksaan Tambahan

Untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi HIV, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan yang saat ini sering digunakan adalah tes antibodi, tes ini mudah dilaksanakan dan biayanya murah. Bila pada tes antibodi ditemukan hasil yang positif, maka pemeriksaan harus diulang dan bila masih positif dilakukan tes konfirmasi dengan tes Western Blot. Bila Western Blot tidak tersedia, maka hasil dinyatakan positif bila tes antibodi menunjukkan tiga kali hasil yang positif. Sebaliknya, hasil yang negatif dapat berarti seseorang tidak terinfeksi HIV atau masih berada dalam periode jendela.

Tata Laksana

Terapi yang diberikan pada penderita AIDS adalah terapi kausal (Penyebab), terapi suportif untuk meningkatkan keadaan umum pasien, dan terapi untuk infeksi oportunistik. Sebagai terapi kausal diberikan antiretroviral (ARV). Indikasi pemberian ARV adalah adanya bukti infeksi HIV dengan gejala atau infeksi HIV dengan pemeriksaan CD4 (salah satu sistem kekebalan tubuh) dibawah 200/mL. Jika pemeriksaan CD4 tidak dapat dilakukan, dapat digunakan pemeriksaan limfosit total. CD4 200/mL kurang lebih setara dengan limfosit total 1200sel/dL. ARV diberikan dengan cara kombinasi, hal ini berdasar atas bukti klinis yang menunjukkan bahwa inisiasi terapi menggunakan kombinasi dua atau lebih ARV memberikan hasil yang optimal.

Selama pemberian ARV, dilakukan pemantauan secara klinis dan laboratorium. Pemantauan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan hemoglobin (Hb), SGOT, SGPT, bilirubin, CD4, serta viral load. Terapi yang berhasil akan perbaikan gejala klinis, peningkatan CD4 dan viral load. Terapi yang efektif akan menunjukkan penurunan viral load setelah terapi selama 3-4 minggu. Dan beberapa penelitian menyatakan bahwa dalam 6 bulan terapi sekitar 80% dari penderita AIDS yang menggunakan ARV secara teratur dapat mencapai keadaan undetectable.

Hepatitis C

Definisi

Hepatitis C adalah peradangan pada hati yang disebabkan olhe virus hepatitis C (VHC). Infeksi virus ini dapat menyebabkan peradangan hati yang bersifat asimptomatik (tidak bergejala), apabila infeksi berlanjut akan menyebabkan sirosis hati dan kanker hati. Virus hepatitis C menyebar melalui kontak darah-ke-darah dari darah orang yang terinfeksi. Diperkirakan 150-200 juta orang di seluruh dunia terinfeksi VHC. Walaupun sudah ditemukan vaksin pada hepatitis A dan B, tidak ada vaksin yang dibuat untuk hepatitis C.

Gejala dan Tanda

Kebanyakan orang yang terinfeksi VHC tidak menimbulkan gejala. Jika menimbulkan gejala, akan timbul seperti penyakit flu, ditambah dengan:

  • Lemas, kecapaian
  • Mual dan penurunan nafsu makan
  • Nyeri otot dan sendi
  • Rasa tidak enak pada daerah hati

Apabila anda terkena hepatitis kronik (menahun) akibat HCV, anda dapat merasakan sedikit gejala diatas. Pada kebanyakan kasus gejala dan tanda tidak akan timbul dalam beberapa dekade. Bila timbul gejala maka anda akan merasakan;

  • Lemas
  • Penurunan nafsu makan
  • Mual muntah
  • Kekuningan yang tetap atau hilang timbul pada kulit dan mata (ikterik)
  • Demam yang tidak tinggi

Karena tidak menimbulkan gejala, maka sangat penting untuk anda memeriksakan darah untuk mengetahui apakah anda terinfeksi atau tidak, terutama yang mempunyai faktor risiko tinggi seperti petugas kesehatan, pengguna obat-obatan yang saling bertukaran jarum suntik.

Gambar : Faktor risiko dan kemungkinan gejala

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk mengetahui apakah anda terinfeksi. Bila terinfeksi VHC biasanya dokter akan lanjut memeriksa jumlah virus dalam darah dan genotip dari virus tersebut.

Pemeriksaan biopsi (pengambilan jaringan) hati juga dapat dilakukan, walaupun tidak terlalu signifikan untuk dapat mengetahui VHC tetapi dengan hasil biopsi akan dapat diketahui derajat berat ringannya penyakit dan bisa menjadi acuan pengobatan.

Tata Laksana

Pengobatan untuk hepatitis C bergantung dari hasil pemeriksaan laboratorium dan timbulnya gejala pada pasien. Pasien diobati jika pada pemeriksaan darah terdapat VHC, hasil biopsi menunjukkan adanya kerusakan hati dan adanya peningkatan enzim hati. Tujuan dari pengobatan adalah untuk mengurangi jumlah virus atau mempertahankan agar tidak bertambah dan mengurangi kemungkinan terjadinya sirosis hati dan kanker hati.

Pengobatan yang bisa dilakukan adalah penggunaan obat antivirus spektrum luas yaitu kombinasi injeksi interferon alfa dengan obat oral (diminum) ribavirin dua kali sehari. Obat ini digunakan selama 1 sampai 2 bulan bergantung dari jenis VHC. Perlu diperhatikan adalah efek samping yang ditimbulkan oleh obat anti virus tersebut.

Interferon-gejala flu, depresi, iritasi kulit, lemas, insomnia

Ribavirin-anemia, gatal-gatal, iritasi kulit, lemas, kelainan kongenital

Transplantasi hati dilakukan pada orang dengan gangguan hati yang sudah stadium akhir. Terapi ini belum terlalu berkembang di Indonesia, hal ini disebabkan oleh kurang nya donor organ. Transplantasi hati tidak menyembuhkan penyakit hepatitis C. Rekurensi hepatitis C sangat tinggi pada kebanyakan orang dengan tranplantasi hati.

Depresi

DEFINISI
Suatu keadaan umum dimana terjadinya pengurangan atau penurunan keadaan emosi dan mood dari suatu individu yang mengakibatkan gangguan di dalam aktivitasnya sehari-hari atau hilangnya fungsinya sebagai individu.

EPIDEMIOLOGI
Gangguan depresei adalah gangguan dengan kemungkinan diderita seumur hidup adalah kira-kira 15 persen, kemungkinan tertinggi terdapat pada wanita yang mencapai 25 persen. Angka kejadian gangguan depresi berat juga lebih tinggi daripada biasanya pada pasien perawatan primer yang mendekati 10 persen dan pada pasien medis rawat inap adalah 15 persen.
Menurut pengamatan terlepas dari budaya dan Negara, terdapat angka kejadian gangguan depresi berat yang dua kali lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki.
Pada umumnya usia awal mula untuk gangguan bipolar terentang dari usia anak-anak hingga 50 tahun. Rata-rata usia awal mula untuk depresi berat adalah berkisar antara 40 tahun.
Dari hal hubungan interpersonal, awal mula gangguan bipolar (depresi) terjadi pada pasangan yang memiliki hubungan yang erat, ataupun pasangan yang sudah bercerai atau hidup sendiri karena ditinggalkan oleh pasangannya.

ETIOLOGI
Dasar umum untuk gangguan depresif tidak diketahui. Faktor penyebab dapat dibagi menjadi faktor biologis, faktor keturunan dan faktor psikososial, ketiga faktor tersebut dapat berdiri sendiri-sendiri maupun saling terkait yang menjadi penyebab dari gangguan bipolar/depresi.

Faktor biologis
Telah dilaporkan berbagai kelainan di dalam metabolit amin biogenic seperti serotonin diduga telah berperan penting dalam hubungannya dengan depresi, hal ini diduga dari pemberian serotonin spesifik reuptake pada pengobatan pasien-pasien depresi . berbagai amin biogenic lainnya selain serotonin yang diduga berperan penting dalam patofisiologi depresi adal norepinefrin dan dopamin. Beberapa faktor neurokimia, walaupun dari hasil penelitian belum memuaskan pada saat ini , neurotransmitter GABA dan peptide neuro aktif diduga juga memiliki korelasi penyebab

Faktor keturunan
Dari hasil penelitian diduga secara kuat bahwa keturunan merupakan suatu faktor yang penting di dalam perkembangan mood seseorang. Tetapi pola penurunan keturunan belum menjadi jelas melalui mekanisme yang kompleks. Beberapa penelitian yang dilakukan adalah penelitian dalam keluarga , penelitian adopsi, penelitian anak kembar, dan penelitian yang berhubungan lainnya

Faktor Psikososial
Beberapa faktor psikososial yang berpengaruh adalah

  • Faktor Kehidupan dan Stress dari lingkungan
  • Faktor Kepribadian Pramorbid
  • Faktor Psikoanalitik dan Psikodinamika
  • Ketidakberdayaan yang dipelajari
  • Teori kognitif

GEJALA DAN TANDA (DIAGNOSTIK)

  • Terdapat 5 (lima) atau lebih gejala yang ditemukan di bawah ini selama periode dua minggu yang sama dan mewakili perubahan dari fungsinya sebagai individu sebelumnya ( dari 5 gejala yang ada minimal ada salah satu gejala mood depresi atau hilangnya minat atau bahagia)
  • Mood depresi hampir sepanjang hari, setiap hari ( merasa atau tampak sedih atau kosong) PS: pada anak-anak atau remaja dapat bermanifestasi sebagai mood yang mudah tersinggung.
  • Hilangnya minat atau keseangan yang jelas pada semua aspek atau hampir semua aspek sepanjang hari hampir setiap hari.
  • Penurunan berat badan yang bermakna, tetapi individu yang bersangkutan tidak melakukan diet atau olahraga yang rutin.
  • Insomnia atau hipersomniat tiap harinya.
  • Agitasi atau redartasi psikomotor (aktivitas atau gerakan motorik )
  • Kelelahan atau hilangnya energi tiap hari
  • Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak tepat.
  • Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memutuskan sesuatu.
  • Pikiran akan kematian yang berulang.
  • Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi social, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
  • Gejala bukan efek psikologis langsung dari obat
  • Gejala tidak lebih baik diterangkan oleh dukacita yaitu setelah kehilangan orang yang dicintai, gejala menetap lebih dari dua bulan atau diikuti oleh gangguan lainnya.

PENATALAKSANAAN
Pengobatan pasien dengan depresi harus tepat pada sasarannya, yakni keamanan dari pasien harus terjamin, pemeriksaan diagnostik yang lengkap harus dilakukan, yang ketiga adalah rencana pengobatan harus secara menyeluruh, bukan hanya mengatasi gejala tetapi juga mengatasi penyebab dari depresi itu sendiri.
Keputusan pertama yang harus dilakukan adalah, apakah pasien harus dirawat di rumah sakit atau dirawat jalan. Indikasi jelas untuk perawatan rumah sakit adalah keperluan diagnostik, adanya resiko bunuh diri atau menyakiti orang lain dan penurunan kemampuan pasien untuk bertahan hidup, seperti makan, mandi, atau mendapatkan tempat berlindung.
Sebagian besar menyatakan kombinasi dari psikoterapi dan psikofarmaka adalah yang paling efektif untuk gangguan depresi. Beberapa psikoterapi jangka pendek yang dapet diterapkan adalah, terapi Kognitif, terapi interpersonal, dan terapi perilaku. Dan dari segi obat-obatan dapat digunakan antidepressant yang telah terbukti efektif, penggunaan Fluoxetin, paroxetin dan sertaline harus digunakan dalam pengawasan minimal 2 – 6 minggu.